Terdapat Pelajaran Berharga Dari Pahitnya Mereka Yang Melaksanakan Perceraian

Posted by Ganas003 on Oktober 04, 2019

Putusnya ikatan ijab kabul antara suami dan istri memang tak mengenakkan. Perkara ibarat ini sanggup menimpa siapa saja. Memang, tujuan ijab kabul itu ialah sekali seumur hidup. Tetapi kondisi dan situasi ‘kan tidak ada yang tahu, sehingga mengarahnya suatu kekerabatan ke arah perpisahan sanggup saja terjadi yang ditengarai oleh banyak faktor dibelakangnya. Salah satunya ialah KDRT, yang menjadi salah satu alasan selain adanya orang ketiga.


Perlakuan emosional yang diterima dari pasangan menciptakan seseorang tak kuasa untuk mempertahankan kekerabatan lebih jauh, Bung. Tak menutup mata, pelaku KDRT sendiri didominasi oleh kaum adam. Namun dibalik itu semua, kita pun tak mengharapkan kekerabatan yang terangkum dalam ikatan sumpah sehidup semati untuk terputus. Lagi pula perceraian ialah salah satu hal yang tak ingin didengar oleh setiap pasangan.Tetapi ada beberapa hal yang kita sanggup pelajari dari perceraian yang dialami oleh mereka, pasangan yang kurang beruntung hingga harus menyudahi ikatannya.


Timbulnya Gejala Hubungan yang Mengarah ke Arah Toxic


Putusnya ikatan ijab kabul antara suami dan istri memang tak mengenakkan Terdapat Pelajaran Berharga dari Pahitnya Mereka yang Melakukan Perceraian


Toxic relationship adalah proses kala kekerabatan tak lagi menyenangkan bagi diri sendiri dan orang lain. Jangan hingga kala ijab kabul sudah jawaban digelar, Bung dan si nona gres menemui ternyata salah satu dari kalian sudah mengarah ke arah toxic relationship.


Hal-hal yang berkaitan dengan hal itu ibarat merasa tidak kondusif akan hubungan, timbulnya kecemburuan, munculnya sifat egois, lalu rasa ketidakjujuran, hingga menawarkan komentar negatif maupun merendahkan. Apabila seorang pasangan sudah mengalami konflik batin yang mengarah kepada amarah, depresi, dan kecemasan itu sudah sanggup dipastikan jikalau kekerabatan mengarah ke arah toxic relationship.


Jangan Menyembunyikan Masalah Keuangan


Putusnya ikatan ijab kabul antara suami dan istri memang tak mengenakkan Terdapat Pelajaran Berharga dari Pahitnya Mereka yang Melakukan Perceraian


Uang ialah kunci. Tidak salah kok Bung jikalau kami berkata ibarat itu, karena problem keuangan sangat krusial bagi setiap pasangan. Jangan sembunyikan dan terbukalah, jikalau dari awal Bung sudah terbuka perihal problem keuangan terhadap si nona itu merupakan langkah yang positif. Bung sanggup membuatkan kepada si nona perihal janji mengenai keuangan rumah tangga. Seperti siapa yang bertanggung jawab terhadap apa.


Berkaitan dengan Pernikahan, Masalah Harus Diselesaikan secara Berduaan


Putusnya ikatan ijab kabul antara suami dan istri memang tak mengenakkan Terdapat Pelajaran Berharga dari Pahitnya Mereka yang Melakukan Perceraian


Karena ini berkaitan dengan problem Bung dan si nona, sebisa mungkin problem harus diselesaikan berdua. Boleh saja untuk meminta pendapat kepada orang lain perihal problem yang kalian alami, tapi sebisa mungkin orang tersebut dari keluarga Bung atau keluarganya. Hal ini hanya bersumber kepada saran, jangan hingga ranah sensitif bahkan hingga malu harus Bung beberkan.


Hindari Curhat Terang-terangan di Media Sosial, meskipun Hanya Bersifat ‘Kode’ Semata


Putusnya ikatan ijab kabul antara suami dan istri memang tak mengenakkan Terdapat Pelajaran Berharga dari Pahitnya Mereka yang Melakukan Perceraian


Ingatlah Bung ataupun si nona, media umum bukanlah buku harian di mana Bung sanggup curahkan segala emosi dan perasaanmu. Lantaran, tak pantas untuk membagikan permasalahan keluarga di sosial media. Meskipun muncul ungkapan simpati atau respon simpatik dari kalangan teman, tetap saja hal tersebut tak layak dilakukan.


Jangan Mengacuhkan Keluarganya, Karena Bung Ada Masalah Dengannya


Putusnya ikatan ijab kabul antara suami dan istri memang tak mengenakkan Terdapat Pelajaran Berharga dari Pahitnya Mereka yang Melakukan Perceraian


Masalah Bung dengan dia, jangan hingga merembet ke keluarganya. Dalam kasus pernikahan, apabila melibatkan perseteruan kedua belah pihak pasangan, jangan hingga menciptakan pihak keluarga terseret ke dalamnya. Bagaimana pun, kala Bung sudah menikah, keluarganya ialah keluarga Bung juga, ‘kan?