Aroma Perselingkuhan Kapten Macan Kemayoran, Dituduhkan Sang Istri Lewat Program Televisi

“Empat kali ia menduakan saya maafkan, selingkuhannya model tapi saya tidak menyebut namanya. Dia (Ismed) minta maaf dan akad enggak akan menduakan lagi, saya maafkan,” ungkap sang istri, Cut Ita, dalam sebuah program televisi. Ismed Sofyan merupakan mantan pemain tim nasional sekaligus kapten Persija, Bung.


Tuduhan yang mengarah kepada Ismed, ditakutkan sanggup mempengaruhi performanya di lapangan hijau. Apalagi sekarang Persija sedang berambisi kembali berada di papan atas Liga 1. Otomatis permainan yang ketat dan sarat otak akan selalu dikerahkan Ismed selama di lapangan. Hal tersebut sudah harus berada di dalam dirinya, alasannya ia merupakan seorang kapten, tentu ia tahu cara menyikapi permasalahan menyerupai ini.


“Alhamdulillah untuk saya tidak menganggu ya. Saya pikir harus bersikap profesional, alasannya setiap saya masuk lapangan semua masalah, pikiran yang ada di luar lapangan saya tinggalkan,” ujarnya dilansir dari Tribunnews.


Selain itu, Ismed pun menyampaikan jikalau terkait permasalahan rumah tangga tak perlu dibeberkan ke ranah publik. Dan setiap rumah tangga niscaya mempunyai masalah. “Saya pikir tidak usah dibeberkan ke media ya. Semua rumah tangga niscaya punya masalah. Saya pikir juga tidak perlu (ditanggapi),” imbuhnya.


Utamakan Makna Marka Jalan Dengan Kesampingkan Soal Warna-Warni Keindahan

Secara semiotika Bung, terdapat sebuah makna dalam warna marka jalan yang selama ini kita lihat secara standar. Beberapa waktu kemudian pengecatan marka jalan menjadi warna-warna mencolok pun dilakukan di beberapa titik di Jakarta demi menyambut semarak pesta olahraga terbesar se-Asia.


Setelah menerima kritikan dari netizen, akhirnya warna marka jalan pun kembali menyerupai semula. Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta menyampaikan bahwa “ada ketentuan-ketentuan mengenai marka jalan”. Penjelasan ini dia dapatkan dari Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup, Yusmada Faizal, perihal warna hitam putih tersebut mempunyai makna kepentingan perihal keamanan.


“Soal separator itu yakni bab dari kelengkapan jalan yang mesti perlu kaidah-kaidah traffic jalan raya dipenuhi. Secara spesifik hukum pewarnaan itu belum ada, tapi ada pemahaman standar dari yang universal bahwa warna tipikal itu sanggup warna aslinya benda itu atau dipertegas putih-hitam itu warna tipikal,” kata Yusmada dikutip dari Detik.


“Iya, alasan utama keselamatan pengguna jalan. Pewarnaan itu ada maknanya. Memang kita akan coba arahkan Pak Gubernur diresmikan mungkin regulasinya soal warna-warna itu yang punya warna kemudian lintas,” imbuh Yusmada.